AKULTURASI BUDAYA TINGGI, BASA SUNDA TERANCAM TUMPUR?

Bahasa daerah di Indonesia semakin banyak terancam kepunahan karena ditinggalkan penuturnya. Penyelenggaraan Festival Drama Basa Sunda merupakan kegiatan strategis dari implementasi Perda Nomor 14 Tahun 2014.

Demikian dikatakan Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Denny Yusuf saat membuka Festival Drama Basa Sunda (FDBS) XVIII 2017, Senin, 20/3/2017 seperti dilansir pikiran-rakyat.com.

IEU RAMÉ LUR: DARI 24.000, KARÉK 3000 LEMBAR TIKET TIMNAS VS MYANMAR YANG TERJUAL!

“Indonesia memiliki 748 bahasa daerah, namun 169 bahasa diantaranya terancam punah, karena penuturnya tinggal 500 hingga 1.000 orang, demikian pula halnya dengan bahasa Sunda yang memiliki banyak lagam atau logat atara pesisir selatan, utara dan pegunungan, secara perlahan mulai ditinggalkan penggunanya,” ujar Denny, pada FDBS XVIII 2017 yang diselenggarakan di Gedung Kesenian Rumentangsiang, Jalan Baranangsiang Kosambi Bandung.

Namun demikian menurut Denny, Wilayah Jawa Barat merupakan salah satu wilayah yang akulturasi budayanya paling tinggi di Indonesia. Hal ini menjadikan bahasa Sunda menjadi bahasa tutur atau sarana komunikasi yang paling dipergunakan dengan gaya yang berbeda karena dituturkan bukan lagi oleh orang Sunda.

“Karena akulturasi budaya di mana suku lain menetap di Jawa Barat, maka khasanah bahasa Sunda mendapat pengaruh. Di satu sisi hal ini sangat menggembirakan karena bertambahnya gaya bahasa pengguna, tapi di sisi lain sangat mengkhawatirkan karena kondisi bahasa aslinya mulai ditinggalkan,” ujar Denny.

Kegiatan FDBS yang diselenggarakan Teater Sunda Kiwari dengan diinisiasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, sebagai salah satu bentuk kepedulian yang datangnya dari kelompok masyarakat. Pada tahun 2017 yang merupakan tahun penyelenggaraan ke 18 Festival Drama Basa Sunda, diikuti 79 grup drama atau teater.

Festival Drama Basa Sunda XVIII akan berlangsung dari tanggal 20 Maret hingga 9 April 2017 di Gedung Kesenian Rumentang Siang dengan naskah drama,”Pasalia” karya Aji Nurhamzah, ”Salayar Dami” (Nazarudin Azhar), “Belis” (Zaenal Abidin), “Durum” (Ed jenura) dan “Pret” (E Rokayat Asura).(Bobotoh.id/RCK. Foto: Internet)

The post AKULTURASI BUDAYA TINGGI, BASA SUNDA TERANCAM TUMPUR? appeared first on BOBOTOH PERSIB.

(2 views)